- Advertisement -spot_img
BerandaNEWSHarga Minyak Dunia Naik, Pertamina Disarankan Lakukan Penyesuaian Harga BBM Non Subsidi

Harga Minyak Dunia Naik, Pertamina Disarankan Lakukan Penyesuaian Harga BBM Non Subsidi

- Advertisement -spot_img

indoposnews.id – Sejumlah pihak menyarankan Pertamina untuk menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi. Hal tersebut menyusul trend harga minyak dunia, yang merangkak naik sepanjang tahun 2021.

Hingga saat ini berada di level USD62/barel. Baik untuk jenis minyak mentah Brent maupun jenis minyak mentah WTI. Pada bulan Maret 2021, tercatat harga minyak dunia, sempat mencapai level tertinggi dalam satu tahun terakhir.

Usulan supaya Pertamina menyesuaikan harga BBM cukup beralasan. Apalagi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) swasta, juga sudah menaikan harga BBM mereka.

Selain itu, penyesuaian harga BBM non subsidi, perlu dilakukan supaya tidak membebani keuangan Pertamina. Dimana akhirnya bisa membebani keuangan negara. Mengingat saat ini Pertamina juga menerima penugasan dari Pemerintah. Termasuk BBM 1 Harga untuk wilayah 3T.

“Pertamina saya kira perlu menyesuaikan harga BBM non subsidi. Dimana ini sudah diatur dalam Kepmen ESDM No.62 Tahun 2020 Tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar Yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Dan/Atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan.” jelas Direktur Executive Energy Watch, Mamit Setiawan dalam keterangan tertulisnya, Jumat (21/5/2021).

Lebih lanjut dia mengatakan, berdasarkan Kepmen tersebut, dijelaskan bahwa perhitungan menggunakan rata-rata harga publikasi MOPS atau Argus. Dengan satuan USD/barel, periode tanggal 25 pada dua bulan sebelumnya, sampai dengan tanggal 24, satu bulan sebelumnya untuk penetapan bulan berjalan.

“Dengan demikian saya kira di awal bulan Juni 2021, Pertamina bisa menyesuaikan harga BBM non subsidi. Sesuai dengan nilai keekonomian,” terang Mamit.

Dia menambahkan berdasarkan data yang ada, bahwa SPBU Swasta bahkan sudah menaikan harga BBM Non subsidi, beberapa kali sejak bulan Maret 2021. Karena itu kata Mamit, adalah hal yang wajar, jika Pertamina menyesuaikan harga BBM Non Subsidi.

“Mengingat saat ini harga minyak dunia sudah berada di level USD62/barel. Baik untuk jenis minyak mentah Brent, maupun jenis minyak mentah WTI,” jelas Mamit.

Dia menambahkan, SPBU swasta, seperti Shell telah dua kali melalukan penyesuaian harga pada awal Maret dan April 2021. Dimana saat ini harga BBM Shell jenis Reguler (RON 90) sebesar Rp10.520/liter, Super (RON92) Rp10.580/liter, V-Power (RON 95) Rp11.050/liter dan Diesel Rp10.590/liter.

Harga tersebut, masih jauh lebih tinggi dibandingkan harga jual BBM Pertamina dimana untuk Pertalite (RON 90) sebesar Rp 7.650/liter, Pertamax (RON 92) sebesar Rp 9.000/liter dan Pertamax Turbo (RON98) sebesar Rp 9.850/liter.

Selain itu Mamit yakin bahwa penyesuaian harga BBM Non Subsidi Pertamina, akan berada di bawah harga BBM swasta lainnya. Hal itu mengingat Pertamina sebagai BUMN akan mempertimbangan daya beli masyarakat.

“Harga BBM milik Pertamina masih paling kompetitif dibandingkan SPBU swasta lain.Tetapi dari sisi kualitas saya yakin tetap sama. Dan tidak ada pengurangan sama sekali,” jelas Mamit.

“Penyesuaian harga BBM saya kira harus dilakukan oleh Pertamina. Mengingat dari sisi regulasi memungkinkan untuk dilakukan,” imbuhnya

Jika penyesuaian harga BBM tidak dilakukan, Mamit khawatir hal itu akan membebani keuangan Pertamina. Dimana akhirnya bisa membebani keuangan negara. Mengingat saat ini Pertamina juga menerima penugasan dari Pemerintah. Termasuk BBM 1 Harga untuk wilayah 3T.

“Sesuai dengan Kepmen 62/2020 tersebut, pada diktum ke tiga bahwa Badan Usaha menyampaikan kepada Menteri ESDM melalui Dirjen Migas. Saya harapkan Kementerian bisa menerima rencana penyesuaian yang akan dilakukan oleh Pertamina ke depannya,” pungkas Mamit Setiawan. (rls)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Tetap Terhubung
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Harus Baca
- Advertisement -spot_img
Artikel terkait
- Advertisement -spot_img